mengencani rembulan
menukas bisik gemintang
seraya mengejek dia bertanya
tentang siapa kalian
dari fetus apa kau berkembang biak
dari janin apa kau terlahir
dengan telapak apa kau bertahan
dengan atap kau berteduh
dari tanah kau berpijak
malaikat apa yang menjagamu
dengan apa durjana akan menggodamu
berapa tuhan yang menuntunmu
dengan bahan apa kau dijarah
dengan moralitas apa kau tertawa
dengan agama apa kau bijaksana
mungkin jawabnya: “aku adalah anak matahari”
izinkan kami datang mengganggu kebahagiaanmu
izinkan kami mencampuri kebebasanmu
restui kami suguhkan kasih di altar sembahmu
sambutlah sabda dunia dalam cawan mabukmu
aku masih ingin disini
mati dan membusuk di atap ini
aku masih ingin disini
menanti purnama sambil bernyanyi
mari kita mencari keindahan dengan belajar tentang:
hujan
matahari
tuhan
iblis
dosa
pahala
puisi
surga
neraka
duka
nestapa
agama
tawa
langit
tanah
air
embun
dawai
rintik
rinai
sawah
pematang
pensil
pena
senar
benang
rajutan
hati
luka
dan tentang segalanya…
aku masih ingin disini
mati dan membusuk di atap ini
aku masih ingin disini
menanti purnama sambil menari
aku masih ingin disini
mati dan membusuk di atap ini 4x
aku masih ingin disini
menjadi budak anak-anak ini(PS: Pengantar tulisannya menyusul! asap deh abis laptop ini beres di pake)
dedebayi.1
Menemuimu, anakku…
Aku menulis surat pertama ini ketika petir mengajak aku –ayahmu- bermain di luar rumah. Hari sudah malam, dan ibumu sudah terlelap dengan tangan terus mengusap rahimnya, tempat di mana kamu saat ini masih berada.
Nak, kamu seperti hadir untuk menegaskan waktu yang berjalan begitu cepat belakangan ini. Saat ini aku tulis, kamu baru 8 minggu 2 hari di kandungan ibumu. Semua datang beruntun, kebahagiaan itu, tersusun rapi oleh rentetan waktu, tanpa ada hasrat untuk saling mendahului. Sebuah irisan dapat saja mengurangi kebahagiaan sebuah momen, semua sudah ada waktunya. Seperti sudah disusun dengan baik, anakku…
Aku dan ibumu memutuskan menikah pertengahan tahun lalu. Tak beberapa lama setelah lebaran, aku resmi melamarnya. 2 bulan berikutnya kami menikah. Dan kamu hadir di umur pernikahan baru menginjak 2 minggu. Terkadang aku merasa bahwa kebahagiaan diporsikan Tuhan dalam jumlah begitu besar, dituangkan ke kehidupan kami dalam porsi besar beberapa kali, berurutan hingga kami kewalahan. Dan saat ini, tiba-tiba saja aku dan ibumu memulai perjalanan menjadi seorang ayah dan bunda.
Banyak perenungan yang datang belakangan, sedikit banyak adalah pengaruh kehadiranmu. Pada banyak sahabat, kehadiran seorang anak adalah prasyarat wajar untuk mendinginkan darahnya yang mendidih. Jadinya kamu akan melihat mereka menjadi lunak, sesekali pasrah –atau katanya realistis-, namun di sisi lain dari sudut pandangku, aku merasakan sebuah sebuah rasa kasihan yang dalam sekali. Sebuah rasa yang purba. Bagaimana bisa sebuah pernyataan sikap dilumpuhkan oleh rasa ketakutan dan kekhawatiran yang begitu tak nyata. Aku yakin mereka khawatir dengan masa depan dia –dan anak/keluarganya, tapi kalau begitu, apa artinya mempunyai iman? Dan ketika melihat keadaan negri ini masih gelap gulita seperti ini, rombongan mereka yang melunak setelah berkeluarga dan beranak pinak itu menambah daftar mereka yang diam. Mereka yang apatis. Mereka yang tak bisa lagi diharapkan. Mereka yang melembamkan gerak. Padahal, hari ini mereka berhutang memperjuangkan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak mereka. Tentu saja, itu juga adalah masa depanmu.
Tentu saja tak ada niatan ayah untuk menuntut ataupun terjebak dengan kesempitan jebakan pendakwaan. Ayah terkadang tersenyum-senyum sendiri mengapa begitu nyaman di jalan tak ramai ini. Ketika jeda bertanya ayah memuncak, jalanan ini justru menampilkan jejak yang bercahaya di dalam gelap. Seperti jejak cahaya yang ditinggalkan oleh ekor kunang-kunang –nanti kamu juga akan melihatnya sendiri, ayah berjanji padamu untuk mengajakmu ke tempat di mana kunang-kunang masih bisa ditemui, ayah tahu beberapa tempat rahasia untuk itu. Nah, pada cahaya itu ayah seperti bisa membaca tulisan samar; Musashi, Gandhi, Soekarno, Zarathustra, Gautama, Pram, Goenawan, dan belakangan Lincoln. Apa masih pantas ayah untuk merasa ‘sendiri’?
Kamu adalah satu dari dua peluang, anakku. Kamu bisa menjadi ‘Penanda Musim’ yang baru ketika yang lama mulai hilang dari peradaban, ataupun kamu bisa menjadi ‘Kompas Perenungan’, tergantung Tuhan memberikan jenis kelaminmu apa nantinya. Kelak kau akan paham doa yang kami titipkan pada setiap aliran darahmu. Kau akan paham di negeri macam ayah dan ibumu ini dibesarkan. Betapa rusak negeri itu, betapa tidak berpengharapannya, betapa setiap sudut manusianya sudah dikeroposi oleh kegagalan mendefinisikan rasa cukup. Meskipun begitu, tentu saja ayah dan ibumu adalah mereka yang berjalan dengan lilin kecil di pundak kami, anakku. Tidak terlalu terang memang, tapi bisa saja membakar apapun yang terlanjur kering dan kerontang. Kamu adalah doa kami untuk cahaya yang lebih terang di hari depan, anakku. Terang seterang-terangnya, tanpa ada kehendak di hatimu untuk mencela kegelapan sedikitpun. Iman adalah perihal mempercayai yang terang tanpa meniadakan yang gelap, anakku, begitulah yang selalu diulangkan oleh seorang guru.
Maka oleh karena itu, anakku… izinkan aku tak menyurutkan selangkahpun pernyataan sikap yang aku bawa sedari muda dulu. Aku yakin kau akan paham mengapa dan bagaimana pilihan ini akhirnya aku ambil, yang sedikit banyak nanti tentu akan mempengaruhi hidupmu –bagaimana kamu besar dan dibesarkan.
Ayah akan mengutip ulang apa yang pernah diucapkan lirih oleh Lincoln beberapa abad silam, Nak… We fitted to the times we’re born into.
Aku, kamu, bunda hadir untuk sebuah alasan. Dan tentu saja itu bukan untuk saling meniadakan…
Joinery by Hayes Shanesy
A poster that features common forms of traditional joints used in woodworking.
OUCHI house by Jun Ishikawa
A small house at only 45m² with privacy being a main priority.
Just try to look through this series without cracking a smile. Gabriele Galimberti traveled for 18 months gathering portraits of children with their favorite toys.
Adorable Portraits of Kids With Their Favorite Toys
via 22 Words
Nak…
Apa rasanya berada di dalam sana?
Apakah hangat?
Semoga kamu nyaman ya…
Baru hangat ini yang bisa Bunda berikan…
Sehatlah, kuatlah… Sampai tiba waktumu untuk merasakan pelukku…
Pelukan Bunda, Pelukan Ayah…
Ternyata, ketika menenangkan diri,
tanpa sadar Bunda seringkali mengelus perut,
mengelusmu.
:)
»>:D«<
(via serphres)
