Ridha Hany, <3

Ridha Hany, <3

Lovely Aunty Moon, May 2012.

Lovely Aunty Moon, May 2012.

sebuah cerita yang sentimentil (2)

‘Apa kabarmu?’
‘Kau tentu tahu aku selalu begini, baik-baik saja…’. Tersenyum. Seperti biasa.
‘Ah iya, sudah terlalu lama kita tidak bertemu, tidak bertukar kabar. Aku bahkan sampai lupa bahwa itu adalah pakem jawabanmu. Iya, kau begitu. Kau akan selalu baik-baik saja.’

Hening beberapa saat.

‘Apa kabar si kecil?’
‘Oh… baik. Dia sudah mulai bersuara memanggilku. Kau tahu, itu seperti sebuah mukjizat. Bisakah kau bayangkan darah dagingmu terbata-bata memanggil namamu!’ Wajahmu berubah menjadi sumringah. Sudah kuduga. Dia tampak sudah siap melanjutkan pembicaraan.
‘Aku bersyukur diberi kesempatan itu, menjadi seorang ibu barangkali adalah cita-cita tertinggi setiap wanita di negeri ini. Wajar saja.’

Kembali diam. Aku memang tidak tahu harus merespon apa.

‘Aku lihat kau masih belum banyak berubah. Apakah aku keliru menebak?’
Aku menatapnya.
‘Masih?’ Lirikan itu. Aku hapal artinya; semacam harapan yang berpadu dengan sebuah kecemasan yang hadir karena rasa sayang.
‘Masih. Begitu-begitu saja. Tapi aku rasa lebih dalam. Masih dengan garis merah yang sama, kau tak akan pernah melihatku di dalam majelis ataupun barikade.’
‘Iya aku tahu.’ Kau tersenyum.

-

Takdir manis pernah mampir disini. Kala itu aku dan kamu tidak saling kenal, selain nama. Aku hafal di luar kepala rentetan kejadiannya, kau datang bersama sahabatmu, dan aku –seperti biasa- sendirian saja menjadi bagian dari marjinal, sebuah penyamaran sempurna dari mata masyarakat yang menyelidik. Terkait ini, aku pernah bercerita berapi-api kepadamu.

‘Masyarakat kita itu munafik, dia serupa orang yang tak pernah memiliki batas kepuasan. Suatu ketika mereka tidak menyukaimu karena tidak seperti yang mereka mau, dan ketika dirimu sudah berubah menjadi yang mereka mau, mereka malah menginginkan bentuk yang lain. Aku menyesal pernah mencoba mengikuti jalan pikiran mereka, yang akhirnya aku pahami sebagai sebuah kebodohan saja. Tidak boleh menanggapi orang bodoh! Pertama, tidak akan nyambung, kedua, mereka akan menarikmu mati-matian ke bawah sehingga level bodohnya sama dan barulah kalian nyambung untuk ngobrol. Hahahhaha…’

Aku tahu kau tidak ikut tertawa waktu itu. Tapi aku tidak merasa bersalah. Dalam lubuk hatiku aku yakin bahwa berbicara kepadamu adalah seperti berbicara kepada diriku sendiri. Dan benar, tidak lama berselang kita semakin seragam. Di awalnya, keseragaman adalah modal yang sangat baik untuk saling jatuh cinta. Berikutnya dia adalah modal yang baik juga untuk sebuah rasa bosan.

Dan kau tahu, aku mudah bosan.

Karena laut yang tenang mudah sekali kehilangan pesonanya. Hidup yang berjalan datar hanya akan terasa hambar. Kata orang, perahu memang aman saat bersandar di dermaga, tetapi bukankah dia dibuat untuk menantang ombak paling ganas? Waktu itu, kamulah ombak ganas itu! Nyali laki-lakiku memaksa diriku untuk menaklukkanmu, bukan dengan maksud denotatif tentu saja.

Namun sejak saat itu, waktu adalah harapan sekaligus cemas. Kita berharap untuk esok yang lebih baik, tentu saja. Namun cemas juga hadir membuntuti, apakah benar ini perjalanan yang baik untuk mengajak orang lain, apakah kamu benar-benar rela untuk sebuah peran objek penderita? Lalu kupu-kupu yang beterbangan mulai berubah menjadi ujian tanpa henti. Pertanyaan berubah dari ‘cintakah dia padaku… cintakah dia padaku…*’ menjadi ‘seberapa besar sebenarnya cintaku padamu.’

Dan kau tahu, aku tidak suka diuji, apalagi ditanyai pertanyaan bodoh.

Maka diam adalah jawaban terbaik. Ah, aku sudah terlalu ahli terkait hal yang satu ini. Sedangkan kamu menjadi gelagapan. Tapi bukankah kamu juga terbiasa dengan diam, sebelumnya? Setahuku, itu adalah nilai tambah kamu dibandingkan dengan wanita manapun waktu itu dimataku. Kamu yang diam. Adalah kamu yang menghanyutkan. Serupa arus bawah laut yang seringkali menjebak para penyelam. Bukankah aku seorang penyelam yang baik?

-

Lalu hari ini ketika takdir manis sekali lagi mampir, meski untuk waktu yang tak lama, aku tahu itu. Maka izinkanlah aku memaklumi kesalahanku dan kesalahanmu. Aku tahu kau sudah berjalan jauh. Dan kau tahu aku tidak kemana-mana.

Masih saja sibuk di dalam kepalaku.

Have a very nice life!’ kataku.
Oh, thank you. See you soon. I mean, very soon!’ kau tersenyum lebar.

Ah tidak. ‘No, thank you.’

*​Seno Gumira Ajidarma dalam Linguae

A &#8216;story&#8217; behind &#8216;I Love Us&#8217;Puger Beach, East Java

A ‘story’ behind ‘I Love Us’
Puger Beach, East Java

@ Ngliyep Beach, East Java, Indonesia

@ Ngliyep Beach, East Java, Indonesia

MT. Zen -prelude

Terkadang, laki-laki 80 tahunan itu mengganti subjek dari ‘saya’ atau ‘kamu’ menjadi kita. Dan kalau sudah begitu, saya merasa terbelah, menjadi subjek dan objek pada waktu yang bersamaan.

‘Orang seperti kita ini akan terus bertanya tentang banyak hal. Orang akan heran, atau bahkan juga kasihan karena kita tak kunjung merasa ‘bahagia’. Orang mengira kita memandang segala sesuatu itu dengan murung. Bagaimana itu ya…?’.

Ada jeda. Dia tersenyum. Sumringah. Saya sudah hafal jeda ini. Sebentar lagi dia akan melanjutkan…

‘Kita bepergian kemana saja kita mau. Terus-terusan merasa sendiri. Tapi jangan salah, kita ini lebih family man’.

Dia tertawa. Saya ikut tertawa juga.

Kalau sudah berbicara seperti ini, saya merasa dia bercerita banyak hal yang barangkali cuma ada di dalam pikirannya. Dia bukan orang yang mengabdi pada sepi itu-meskipun dia punya seluruh bekal untuk itu. Dia adalah tokoh bagi banyak manusia lain, dia terkenal-dan menikmati bagian itu. Jadi, ketika dia berbincang tentang jalan yang sepi, tidak ramai orang, hanya ada kamu dan angin yang menderu-deru, kamu menangis karena angin atau air atau gemuruh ombak; dia justru sedang bercerita tentang impiannya. Dia pencinta puncak gunung-saya juga. Dia memanfaatkan dengan baik jeda umur yang memang lebih panjang dari kebanyakan orang. Barangkali dia sudah menjejakkan kaki di seluruh tempat yang dia rasa harus dia kunjungi, kecuali satu; kutub selatan. ‘Pernah melihat aurora?’, kata saya. ‘Itu dia! Saya tak sempat melihatnya!’

Saya seperti sedang dipersiapkan untuk sebuah jalan yang dulu dia ragu-ragu untuk benar-benar menjalaninya. Tampak tidak ada spiritualitas yang dominan dalam hidupnya; dia meragukan semuanya, termasuk Tuhan. Tapi bukankah kita lebih percaya Tuhan daripada ‘mereka’? Tuhan yang tak pernah mencapai kata ‘cukup’ dalam pemahaman, oleh karena itu adalah Tuhan yang senantiasa harus dicari. Bukan Tuhannya para filsuf –seperti yang dijelaskan gamblang dalam dua buku barunya Goenawan Muhammad, bukan juga Tuhan para ustad kebanyakan. Tuhan yang tidak ‘picik’ seperti Tuhannya Ibrahim ataupun Daud. Minimal, saya mengimani Tuhan yang tidak seperti itu.

Dan berkali-kali saya mengingat pertanyaan dia sore itu; kamu merasa sendiri ya?

Hmm.. barangkali tidak juga. Saya justru lebih baik saat sendiri, tak ada perasaan khawatir menyakiti siapapun, tak perlu ada perasaan takut merusak siapapun.

Puger, East Java

Puger, East Java

pada sebuah pantai

Pada Ngliyep yang sepi, ombak berbicara tanpa henti
ada wangi dupa di atas karang yang membenturkan rindu dari kedalaman
ada aku yang entah mencari apa
mampir kesini. Sebentar. Tak tahu apakah kembali lagi.

Tapi di hatimu aku tahu ada marah yang berkecamuk
bukankah kamu yang mengirimkan gejolak dari laut kepada pantai
menghantam apa saja yang bisa dihantam
entah dengan maksud, atau tanpa tujuan. Tak mengapa.

Namun, tidakkah kau melihat bahwa aku selalu berlutut setiap kali menatap wajahmu
disana tentu saja aku lihat sejuta cinta
lewat senyum yang rapi, pipi yang penuh dan dagu yang aku sukai
serta genggamanmu yang mengalirkan air serupa mukjizat seorang nabi

Saat rindu menggebu-gebu,
aku (sadar) harus menunggu
aku (tahu) tak suka menunggu
aku (paham) ini adalah tentang aku dan kamu. Bukan sekedar aku yang terlalu aku.

Ah, sudah waktunya pulang!